Friday, September 19, 2008

Rebel For Life - Plagiat from Ari Astina (JRX SID)

Pemberontak, rebel......what's came up in your head when you hear this word? Melawan orang tua? Drugs? Mabuk lalu menghajar orang? or mengganti dress-code mu mengikuti gaya band-band yang over-played di MTV?

Well, no matter what you do, esensi pemberontakan tidak akan pernah berubah. A real rebellion stays under your skin. Bukan dari dandanan, machoism, tattoos, piercing or anorexic-look yang dibuat-buat. There's two kinds of rebel. Once you're a real rebel, kamu akan selalu jadi a rebel for most of your lifetime, tak akan bisa berubah coz that's who you are. It's in your blood. Kamu akan selalu berpikir untuk melawan kecenderungan-kecenderungan yang ada, kapan saja dimana saja. But when you're a wannabe-rebel [pemberontak tanpa misi dan prinsip yang jelas] kamu hanya akan memandang sebuah pemberontakan dari sisi luarnya saja [baca: fashion] Dan a wannabe-rebel tidak akan pernah membuat sejarah atau melahirkan pemikiran baru yang lebih baik untuk generasinya.


Kita orang timur emang seringkali bingung mengadaptasi culture barat yang sedemikian liberalnya, dimana disini masyarakat kita diikat oleh tatanan atau norma yang kadang gak penting dan berlebihan. Masyarakat kita mencintai keseragaman dan kurang menghargai sosok-sosok idealis or individualis. Menjadi seorang rebel memang susah untuk hidup di Indonesia, for real, tapi disanalah letak art of the rebellion-nya. Sesuatu yang memerlukan pengorbanan karena masyarakat kita masih cenderung melihat sisi negatif dari seorang rebel [di cap sok kebarat-baratan dll]. Padahal menjadi rebel bukanlah hal yang 100% salah. Tergantung apa yang kamu lawan. Misalnya, kamu benci melihat sinetron-sinetron Indonesia yang mewah, dangkal dan mudah ditebak, lalu kamu bikin sebuah film dokumenter tentang bagaimana sinetron-sinetron tersebut membodohi masyarakat kita yang mayoritas masih hidup dibawah garis kemiskinan. Itu sebuah pemberontakan yang pintar. Sebuah counter terhadap komersialitas dan penyeragaman yang berlebihan.


A real rebel selalu berada diluar kecenderungan masyarakat, dan itu bukanlah pilihan yang salah, selama kamu bisa bertahan dan mempertanggung jawabkan misi dari pemberontakkanmu. Harus diingat, kecenderungan di masyarakat atau di scene tidak selalu benar dan baik buat kita.


Contohnya ketika trend emo menyerang, remaja kota-kota besar beramai-ramai menutupi rambutnya dgn poni dan bikin band emo dadakan, alasannya biar keliatan 'cool' dan diterima di pergaulan kota besar yang makin konsumtif. Hanya sebagian kecil dari remaja-remaja kita yang serius menyimak dan mengerti lirik band-band emo. Ironis. Padahal diasalnya, band-band tersebut terbentuk karena mereka sering tersisih dalam pergaulan, dan musik yang mereka tulis adalah penegas kalau mereka adalah orang-orang yang berada diluar kecenderungan/pergaulan. Disini, oleh sebagian besar remaja malah dipakai senjata utk kelihatan 'up to date' dan 'gaul'[damn, i hate that word!]. Same thing happens to punkrock and ska and maybe rockabilly in the future. Misi pemberontakannya ditinggalkan, fashion-nya di obral habis-habisan. Dan menurut saya itu sama sekali bukan pemberontakan.


Kalau saya umpamakan pemberontakan adalah struktur sebuah lagu/band, jadinya begini: pakaian yang dikenakan oleh personel band, jenis suara gitar, drum dan suara teriakan/nyanyian vokal adalah media penyampai pemberontakan, sedangkan isi dari pemberontakan itu sendiri ada pada lirik. Karena lirik berasal dari pemikiran yang paling dalam, ada pesan yang ingin disampaikan. Banyak orang yang bisa bermain skillful, tempo drum hebat, tehnik vokal diatas angin dan bergaya seperti rockstar kebanyakan groupies yang mempunyai masalah kejiwaan [yea right...] tapi jarang banget ada band Indonesia, apalagi yang terkenal, punya lirik berontak yang skaligus pintar. Ujung-ujungnya paling keras bisanya menghujat pemerintah tanpa memberikan solusi yang jelas, yang buruh bangunan pun bisa melakukan itu sambil menghisap kretek terakhirnya. Jadi ya, percuma saja kalau ada band yang merasa sudah pemberontak hanya karena memakai kaos gambar tengkorak, tattoo or mohawk, distorsi maksimum dgn beat drum yang berat, tapi liriknya masih standar khas Indonesia [lirik cinta yang dangkal dan di klip harus ada model cantik dan ganteng lagi berantem] Seorang rebel akan menemui kesulitan men-support band-band seperti itu. Lagipula, kenapa harus nyerah sama standar-standar yang dibikin oleh generasi sebelum kita, apa kita tidak punya hak untuk punya taste terhadap standar yang berbeda?


Sekarang try to think, kecenderungan apa aja yang ada di masyarakat kita yang kamu rasa mengganggu tidurmu. Ignorance is the real enemy. Kamu benci melihat budaya kekerasan yang semakin populer di masyarakat, lawan itu semua dan jangan ikut menjadi seperti mereka. Kamu kesal setiap kali melihat masyarakat dengan santainya membuang sampah plastik sembarangan, jadilah seorang pro-environment dan pengaruhi orang-orang disekitarmu. Kamu gak tega melihat hewan-hewan dibunuh untuk dimakan, jadilah seorang vegetarian dan daftarkan dirimu di peta2.com. Kamu bosan melihat budaya modern nan konsumtif anak muda yang manja dan kadang berlebihan, jadilah seorang berandal pasar barang bekas dan kenakan pakaian bekasmu dengan bangga dan stylish. Kamu merasa menyesal membeli majalah yang dipenuhi wajah-wajah infotainment gak penting, bikin dan cetaklah wajahmu sendiri. Bosan ama design kaos-kaos distro yang makin seragam dan cheesy, bikin clothing-line mu sendiri. Akan lebih baik jika kamu melakukan itu semua tanpa menjadi seorang fasis yang kaku. Just do your own thing.


See..banyak hal-hal berontak yang bisa kamu lakukan di Indonesia tanpa harus merugikan orang lain dan malah bisa menguntungkan jika kamu bisa me-manage 'kenakalanmu'.


Jadilah seorang counter-culture with a big heart, yang bertanggung jawab, respect thd keluarga, lingkungan dan bumi pertiwi. Dont judge us, musicians, by the way we look or he way we dress, coz these days, anyone can look so punk, so psycho, so emo, so rockabilly, so metal dalam hitungan detik. Zap! Just like that!


Jangan sampai terjebak menjadi seorang rebel bodoh yang hanya mengejar status sosial. You gotta know where you stand and why you stand there. Knowledge [pengetahuan] is king and that's all you need to be a real modern rebel. Cheers, cherry and dynamite!


jrx

Monday, September 15, 2008

Arti Sebuah Persahabatan

Mungkin engkau tak pernah tahu dengan sosok sebuah “SAHABAT”. Menurut kalian, apa yang dapat di artikan dari sebuat kata “SAHABAT”. Seperti apa makna dari kata yang terus diagungkan itu? Seperti bunga dengan tangkaikah, yang selalu melengkapi? Seperti bintang dan rembulan, yang selalu ada tuk dipandangii? Ataukah seperti mawar dengan duri, yang selalu melindungi. Tapi “SAHABAT” itu seperti api. Suatu saat dapat lindungimu dari dingin malam. Suatu saat dapat bantumu berjalan saat gelap. Hanya harus kamu ingat bahwa api dapat membunuhmu.

Seberapa percaya engkau dengan “SAHABAT”mu. Seperti cahayakah, yang selalu terangimu? Atau seperti wangi melati yang selalu tenangkanmu? Tapi ingatlah, bahwa “SAHABAT” itu seperti malam. Yang dapat sesatkanmu dengan gelapnya. Mungkin dia juga dapat menyakitimu dengan dinginnya.

Seberapa tahu engkau tentang “SAHABAT”mu. Sedalam lautan disamuderakah? Atau setinggi bintang –bintang di angkasa? “SAHABAT” itu seperti air. Ia dapat segarkanmu saat dahaga. Ia begitu tenang dan dingin,sedingin air di telaga. Ia dapat memperindahmu seperti embun yang menetes di kuncup bunga. Tapi harus kau ingat bahwa setenang air, ia dapat hanyutkanmu seperti air bah yang deras atau akan menenggelamkanmu seperti laut yang sangat dalam.

Serindu apa engkau mendambanya? Sebahagia apa engkau menyambutnya? Apakah engkau selalu mengagungkannya? Kau tak pernah sadar, kalau kalian pernah saling mencaci. Kalau kalian pernah saling menutupi. Suatu rahasia yang akan buat kalian saling membenci. Mungkinkah persahabatan itu abadi? Perjalanan hidup ini panjang, sepanjang mimpi yang tak pernah usai. Saat kau terlelep, tertidur dengan sejuta harapan. Hidup dan kehidupan ini misteri, yang tahu hanya kau sendiri.

Terkadang sahabat itu seperti bayangan. Ada saat terang dan hilang saat gelap. Suatu paradigma yang lama tapi belum melekat di hati kita. Sahabat yang baik adalah orang yang slalu ada saat kita merasa susah dan kita tidak pernah menemukannya saat kita senang. Seberapa dalamkah kita menilai seorang sahabat itu, tapi kita tidak akan pernah tau apa yang dia pikirkan dan yang dia kenal dari kita.

Persahabatan hanyalah suatu kebutuhan, dimana kita hidup tak harus sendiri menanggung beban dihati. Karena kita adalah makhluk sosial yang selalu haus akan hubungan sosial. Tapi yang perlu kau tahu, jangan pernah salahkan mereka ketika kau sakit. Jangan pernah acuhkan mereka saat kau terluka karena cinta. Karena mereka selalu ada dengan kekurangan mereka. Mereka selalu tahu dengan beban dipundakmu. Karena sahabat selalu disisimu.

Jadilah kita seorang yang selalu ada saat sahabat membutuhkan kita, dan pilihlah sahabat yang selalu ada saat kita membutuhkannya. Jangan pernah kita memaksakan keidealisan kita pada orang lain yang kita anggap sahabat, karena itu akan mengahancurkan persahabatan itu sendiri. Biarkan sikap idealis muncul dalam dirinya dan kita, biarkan keegoisannya dan keegoisan kita tetap ada. Sebab dengan demikian kita akan jauh lebih mengenalnya dan begitu pula sebaliknya. (by my best friend "TAUFIK DALIMUNTE")